Rabu, 15 Juli 2009
Ditulis oleh: sumarlin
Senyuman dapat mempengaruhi orang di sekitar. Karena pentingnya senyum itu, sebuah perusahaan kereta api Jepang memberlakukan sistem untuk memeriksa apakah karyawannya sudah cukup tersenyum atau belum. Peralatan komputer akan dipasang di 15 stasiun kereta api di Tokyo untuk mengukur apakah lingkaran senyum para karyawan memang sudah cukup besar.Mereka yang dianggap masih belum tersenyum sesuai besaran yang diharapkan akan diminta agar kurang serius dan lebih gembira. Sistem ini juga akan diterapkan di sebuah rumah sakit di Osaka untuk memastikan agar para staf sudah cukup bersahahabat. Selain di rumah sakit, sistem ini rencananya akan dipasang di tempat pemberhentian truk untuk melihat apakah para supir sudah lelah atau belum.Wartawan BBC di Tokyo, Roland Buerk, mengatakan Jepang amat menghargai layanan yang baik kepada para pelanggan. Dalam layanan kereta api, misalnya, para kondektur diharuskan berpakaian rapi dan menunduk hormat jika pelanggan masuk maupun keluar dari gerbong. Sistem pengukur senyum ini dikembangkan perusahaan Jepang, Omron, yang menyarankan produk mereka juga bisa digunakan di toko-toko guna memastikan reaksi dari para pelanggan atas barang-barang yang dipajang. Namun tidak dijelaskan apakah alat itu bias membedakan senyum palsu dan senyum tulus.
Senyum Palsu
Ahli otak yang khusus menekuni bagaimana mengatur emosi positif dan negatif, Paul Ekman, membedakan dua jenis senyum: felt simle atau senyum spontan, yang dihayati dan motivasi oleh perasaan tulus; dan false smile atau senyum palsu yang sengaja dibuat untuk meyakinkan orang bahwa ada kegembiraan, ketulusan, kepolosan, dan kejujuran. Senyum palsu pernah dilakukan oleh semua orang, tetapi jauh lebih banyak dilakukan oleh kelompok diplomat, pedagang, politisi dan pekerja hubungan publik (public relation). Senyum palsu bertujuan menunjukan kegembiraan sekalipun sebenarnya tidak. Senyum ditunjukan untuk meyakinkan orang bahwa ia tulus, gembira, atau polos. Senyum itu dilakukan untuk menutupi isi hati sebenarnya. Ia berusaha menyenangkan orang. Jika Anda tidak suka pada seseorang, lalu Anda tersenyum untuk menunjukkan bahwa Anda menunjukkan senyum palsu yang dinamakan phony smiles. Sebaliknya, jika hati Anda sedang gundah gulana, sedih, dan susah karena suatu hal, tetapi Anda tersenyum untuk menunjukan keterangan dan kekuatan, maka Anda melakukan senyum palsu bernama masking smiles. Saat melancarkan senyum ini, Anda seperti memakai topeng masker) untuk menutupi perasaan sedih itu. Dalam beberapa hal, senyum palsu tidak sepenuhnya salah, terutama karena kegembiraan itu seperti virus flu; bisa menular dengan sangat cepat. Ciri penting senyum spontan atau tulus ialah kalau kita tersenyum spontan, apa lagi didasari oleh ketulusan dan kepolosan, sudut bibir kita akan terangkat ke atas diikuti oleh kerutan pada daerah yang melingkari mata. Kalau politisi atau presenter melakukan masking smiles, misalnya karena ingin menarik simpati, kita mengamati bahwa bukan otot di sekitar bibir yang berkontraksi, tetapi otot di bagian wajah lain yang menunjukkan ketegangan. Namun jangan khawatir dengan senyum palsu yang kita buat. karena tidak selamanya senyum palsu itu jelek. Karena jika kita melakukan senyum palsu di rumah, di kamar, atau di ruang pribadi kita, malah efeknya bisa positif. Karena saat kita melakukan hal itu berarti kita sedang melakukan facial bio feedback, yakni membuat senyum untuk mempengaruhi otak kita. Misalnya saat kita sedang sedih atau gundah gulana, cobalah tersenyum atau tertawa (tapi awas lho! jangan di depan umum ga nanggung resikonya), otak kita akan menangkap senyuman itu dan melepaskan zat tertentu yang kemudian mempengaruhi emosi kita. Hal ini sama dengan terapi wajah atau senam wajah. Ini sebuah olahraga untuk menyehatkan jiwa. demikian juga ketika kita sedang marah atau dongkol. Cobalah menggerak-gerakan otot di sekitar mulut kita, membentuk senyum palsu. Tentu lain ceritanya soal jika senyum palsu ini dilakukan di depan orang lain. Senyum dan tawa dapat menjadi obat melalui efek resonansi. Orang yang mudah senyum, biasanya mudah gembira. Kegembiraan ini dapat menular. Makin banyak kita tersenyum spontan dan tulus, makin banyak kita membagi kegembiraan kepada orang lain. Keceriaan dan keramahan wajah kita, apalagi dihiasi dengan senyum tulus, akan menjadi obat bagi banyak orang. (satwikorumekso)
Komentar Pembaca
Anda harus login dulu untuk memberikan komentar.

